MUHASABAH : BALASAN KEBAIKAN YANG SEMPURNA

Saudaraku
Barangsiapa yang mentaati Allah Azza wa Jalla niscaya mendapatkan balasan yang sempura berupa kebaikan-kebaikan, dan barangsiapa yang memaksiati (yakni tidak taat kepada Allah) niscaya mendapatkan azab yang keras. Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa diri-Nya tidak butuh terhadap para hamba, akan tetapi para hamba itulah yang butuh kepada Allah Azza wa Jalla dalam semua keadaanya, karena Dia adalah Pencipta dan Pemberi Rezeki mereka. Allah Azza wa Jalla adalah dzat yang Maha Adil, semua ketetapan-Nya berlandaskan pada keadilan-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ولا تستوي الحسنة ولا السئة

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.”

(QS. Al-Fusshilat: 34)

Saudaraku,
Allah Azza wa Jalla berfirman,

واتقوا يوما ترجعون فيه الي الله , ثم توفي كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون

“Dan takutlah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak didzalimi.”

(QS. Al-Baqarah: 281)

Ayat ini merupakan ayat yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan disebutkan bahwa Rasullah wafat sembilan hari setelah turun ayat tersebut. Ini menunjukkan konsep keadilan yang Allah jelaskan kepada para hamba-Nya, di mana setiap hamba akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan amal perbuatannya…

Saudaraku,
Allah Azza wa berfirman,

فمن يعمل مثفال ذرة خيرا يراه , ومن يعمل مثقال ذرة شرا يراه .

“Maka barangsiapa yang beramal kebaikan seberat _dzarrah_ pun, niscaya dia akan melihat balasannya, Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat _dzarrah_ pun, niscaya dia akan melihat balasannya.”

(QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Ini adalah balasan bagi yang berbuat baik dan jelek, walaupun yang dilakukan adalah sebesar _dzarrah_, maka itu akan dibalas. Maka lebih pantas lagi jika ada yang beramal lebih dari itu dan akan dibalas. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ووجدوا ما عملوا حاضرا ولا يظلم ربك أحدا

”Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).”

(QS. Al Kahfi: 49)

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr As Sa’di, ”Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walaupun sedikit, begitu pula menunjukkan ancaman bagi yang beramal jelek walaupun itu kecil.” Allah Azza wa Jalla berfirman,

والوزن يومئذ الحق فمن ثقلت موازنه فأولئك هم المفلحون, و من خقت موازنه فأولئك الذين خسروا أنفسهم بما كانوا بأياتنا يظلمون .

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikanya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

(QS. Al-A’raaf: 8-9)

Yakni timbangan untuk menimbang amalan seorang hamba pada hari kiamat, dan tidak ada seorang pun yang dizalimi…

Allah akan meletakkan timbangan pada hari pembalasan dan tidak ada seorangpun yang akan dirugikan, karena itu barangsiapa yang datang menghadap Allah Azza wa Jalla dengan membawa sekecil dari kebaikan maka iapun akan melihat balasannya, sebagaimana yang datang menghadap Allah Azza wa Jalla dengan membawa sekecil dari keburukan, maka iapun akan melihat balasannya. Di dalam firman-Nya Allah Azza wa Jalla menyebutkan _Al-Mizan_ yang berarti timbangan, secara bahasa _Mizan_ adalah alat untuk mengukur, dan yang dimaksudkan _Mizan_ di sini yaitu _Mizan_ yang memiliki dua daun timbangan yang nyata dipasang untuk menimbang amal para hamba setelah dihisab, penetapan amal dan penyodoran kepada anak Adam…

Di sini terlihat kemaha-adilannya Allah Azza wa Jalla dan tidak ada seseorangpun yang terzalimi. Dia mendatangkan semua amalan manusia sekalipun seberat satu _dzarrah,_ untuk menunjukkan beratnya balasan setimpal dengannya. Allah Azza wa Jalla mengunakan timbangan karena ini adalah alat ukur yang paling akurat. Di antara prinsip aqidah muslim adalah beriman terhadap hari pembalasan, dalam al-Qur’an Allah Azza wa Jalla sebutkan dengan kalimat _Yaumud din_ yang artinya hari pembalasan. Dinamai dengannya karena hari itu ditampakkan semua apa yang dilakukan oleh para hamba. menjelaskan,

يوم الدين يوم يدين الله العباد بأعمالهم

_Yaumud din_ artinya hari di mana Allah Azza,wa Jalla memberi balasan seluruh hamba berdasarkan amal perbuatan mereka. Imam Ibnu Katsir menyebutkan, “Pada hari itu tak ada seorang pun dari hamba-Nya yang memiliki kekuasaan bersama Allah Azza wa Jalla, seperti kerajaan atau kekuasaan yang dimiliki umat manusia di dunia ini, _yaumud din_ sendiri artinya hari kiamat. Pada hari itu Allah Azza akan memberi balasan terhadap hamba-Nya atas perbuatan mereka, baik dan buruk, kecuali yang dimaafkan oleh Allah Azza wa Jalla. Pada intinya balasan itu sesuai dengan jenis amalannya…

Saudaraku,
Allah Azza wa Jalla berfirman,

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.”

(QS. Ar-Rahman: 60)

Karena itu, kemulian seorang hamba di sisi Allah Azza wa Jalla bukan pada banyaknya harta, atau tingginya kedudukan, bukan pula dilihat pada nasab garis keturunan serta kekerabatan, akan tetapi tergantung pada banyaknya nilai-nilai ketaatan kepada-Nya…

Saudaraku,
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengingatkan,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, zakat, namun dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan dan memukul fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka.”

(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berbuat adil dan menghindari berbuat zalim, sehingga diberikan balasan kebaikan yang sempurna untuk meraih ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabb…

_Wallahua’lam bishawab_

KPK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× HUBUNGI KAMI