Mohammad Natsir, Dibalik Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Mohammad Natsir adalah seorang ulama sekaligus politisi yang berambisi menyatukan Negara Indonesia dan memperjuangkan pemikiran Islam dalam bernegara. Mohammad Natsir lahir dan dibesarkan di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Pergaulan Natsir banyak dikelilingi oleh pemikir – pemikir islam, salah satunya Agus Salim. Mereka sering bertukar pendapat terkait hubungan islam dalam pemerintahan negara demi masa depan indonesia yang saat itu dipimpin oleh Soekarno.

Namun melihat Soekarno dan para pemimpin Indonesia telah menyatakan merdeka dari Jepang pada tanggal 17 agustus 1945, Belanda memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mengembalikannya menjadi wilayah koloni melalui agresi militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Akibatnya pemerintahan Indonesia lumpuh dan terciptanya Konferensi Meja Bundar (KMB) dimulai tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949, dan timbul kesepakatan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS).

Akan tetapi terbentuknya RIS tidak berlangsung lama, tepatnya pada tanggal 3 April 1950 saat Mohammad Natsir menjabat sebagai anggota parlemen, Ia mengajukan “Mosi Integral” dalam sidang pleno parlemen. Melihat “Mosi Integral” memungkinkan bersatunya negara bagian kedalam NKRI sebagai tujuan utama bangsa Indonesia, Mohammad Hatta selaku Wakil Presiden merasa sangat terbantu dengan adanya Mosi tersebut.

Tepat pada tanggal 17 Agustus 1950, Mosi Integral Natsir telah mengantarkan terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sebelumnya berbentuk Serikat (RIS), beserta pengangkatan dirinya menjadi Perdana Menteri ke-5 Indonesia oleh presiden Soekarno. Namun tidak berselang lama, terjadi perselisihan antara Mohammad Natsir dengan Soekarno sebagai penganut paham Nasionalisme yang menkritik Islam sebagai Ideologi seperti yang diharapkan oleh M. Natsir.

Yang mengakibatkan para menteri dan anggota parlemen dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Soekarno terus mendesak dan berusaha menjatuhkan kabinet Natsir dengan tidak memberi dukungan pada setiap kebijakan yang diusulkan oleh Natsir dan Hatta. Akhirnya pada 26 April 1951, Mohammad Natsir resmi mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Indonesia. Namun seiring keterlibatanya menentang pemerintahan yang dinilai semakin otoriter, ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara tahun 1962 sampai akhirnya 26 Juli 1966 dibebaskan pada masa orde baru.

Meskipun demikian, pendirianya tidak berubah sedikitpun tentang pentignya peranan islam di Indonesia, dan terus mengkritisi pemerintahan sampai akhirnya pada 6 Februari 1993 beliau menutup usia. (zans)

KPK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× HUBUNGI KAMI