advertisements
advertisements
advertisements

Pengalamanku dengan Salafi

Oleh : Nuim Hidayat (Guru Dan Penulis)

Suatu saat aku berdiskusi dengan seorang yang ikut pengajian salafi di stasiun kereta api. Tentang shalat Sunnah. Ia ngotot bahwa apa yang dilakukan Rasulullah, ya kita lakukan. Bagi dia tidak ada istilah wajib dan Sunnah. Semua yg dilakukan Rasulullah ya wajib kita lakukan.

Aku tadinya bingung lihat cara berpikirnya. Lama lama aku menyadari bahwa ia tidak mengenal Ushul fiqh. Perbuatan Rasulullah tidak semuanya wajib. Ada yang wajib, sunnah bahkan mubah.

Ya begitulah kalau mengambil langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah tanpa menyimak ulama-ulama Fiqih yg juga mendalam pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.

Kejadian lain. Sekitar tahun 2004, setelah buku saya “Sayid Qutub, Biografi dan Kejernihan Pemikirannya” terbit, saya diundang Radio Dakta untuk bedah buku itu. Radio ini lokasinya di Bekasi dan banyak pendengarnya pengikut salafi.

Ramailah diskusi tentang buku itu di radio. Ketika diskusi itu berakhir dan saya mau pulang, tiba tiba satpam memberikan sebuah buku berjudul “Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin.”

Sampai di rumah buku itu saya baca. Saya kaget. Antara judul dan isi beda. Jadi buku itu rupanya isinya menghantam tokoh tokoh Ikhwan. Tapi yg saya heran orang salafi yg memberikan buku ini tidak langsung menghadiahkan ke saya. Tapi lewat satpam.

Gara gara buku Sayid Qutub itu beberapa orang salafi juga menyerang saya di facebook. Mereka melampirkan beberapa pendapat ulama Saudi tentang Sayid Qutub

Saya katakan pada mereka: Kalau antum menilai tokoh itu, antum baca karyanya dulu, baik asli atau terjemahannya. Jangan hanya baca kata orang tentang tokoh itu. Kamu sudah baca buku Sayid Qutub belum, kata saya. Ia diam saja. Kalau antum udah baca bukunya, baru kita diskusi.

Di sebuah lembaga Islam, saya juga dapat cerita menarik. Lembaga itu pernah dihadiri pengajian salafi dan ustadznya. Mereka tadinya rutin mengadakan pengajian disitu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.

Ada cerita menarik dari teman saya ketika rombongan salafi itu pengajian disitu. Ada teman yang menjual buku buku Syekh Yusuf Qaradhawi. Seorang Salafi protes. Ia mengatakan jangan dijual buku buku Yusuf Qaradhawi ini karena ia hanya akal-akalan belaka.

Rupa rupanya saya jadi mengerti bahwa dalam jamaah salafi, guru dan buku dibatasi. Mereka tidak boleh membaca buku selain yg direkomendasikan guru-guru mereka.

Sehingga saya punya teman cerita, bagaimana ia mengeluh gara gara istrinya ngaji salafi. Ia mengeluh istrinya membakar buku buku gerakan Islam yg dianggap bertentangan dengan Salafi (ada yang menginfokan bahwa di sebuah universitas Saudi buku buku karya ulama Ikhwan juga dibakar).

Terakhir, pengalaman berhubungan dengan salafi tentang status masjid yang sebenarnya bukan milik mereka. Karena mereka sudah merasa puluhan tahun mengurus masjid itu, maka mereka melarang kita untuk pengajian disitu. Padahal masjid itu sebenarnya milik organisasi kita. Pengajian bulanan pun kita dilarang. Hanya boleh menggunakan setahun sekali.

Begitulah pengalamanku dengan teman-teman salafi. Saya sebenarnya kasihan kepada mereka. Tapi yang salah sebenarnya ustadz mereka. Yang membatasi guru dan buku di luar jamaah mereka. Sehingga cara berpikirnya menjadi kaku dan ‘keras’ kalau berhubungan dengan kaum Muslim lain.

Itu pengalaman saya. Mungkin anda punya pengalaman lain. Silakan ditulis. Semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka. Wallahu alimun hakim.

 

advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
× HUBUNGI KAMI